Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Mei 2025



📚Tahun Ajaran atau Tahun Pelajaran? Yuk, Tulis yang Benar!

Halo sobat sekolah! 👋

Setelah liburan semester genap usai, saatnya kita kembali ke bangku sekolah dan menyambut tahun ajaran baru. Tapi, pernah nggak sih kamu bingung dengan istilah tahun ajaran dan tahun pelajaran? Soalnya, nggak sedikit loh informasi dari sekolah yang menuliskannya beda-beda. Jadi, mana yang benar?

📖 Tahun Ajaran vs. Tahun Pelajaran

Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata ajaran adalah segala sesuatu yang diajarkan. Sedangkan pelajaran adalah yang dipelajari atau diajarkan, contohnya: pelajaran matematika, fisika, dan lainnya.

Nah, dalam KBBI juga ada istilah tahun ajaran yang berarti masa belajar dalam tahun tertentu. Jadi, yang benar untuk menyebut masa belajar satu tahun di sekolah adalah tahun ajaran, bukan tahun pelajaran.

✔️ Contoh penulisan yang benar:
Sistem Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2025/2026

✍️ Bagaimana Cara Menulis Tahunnya?

Nah, ini juga penting! Banyak yang masih keliru menulis tahun ajaran pakai tanda minus, misalnya 2025-2026. Padahal, yang benar adalah menggunakan garis miring (/) seperti ini:
➡️ 2025/2026

Kenapa? Karena garis miring dipakai untuk menunjukkan dua tahun kalender dalam satu tahun ajaran. Sementara tanda minus biasanya digunakan untuk hal lain, seperti skor pertandingan (contoh: 3–1).

Hal ini juga ditegaskan oleh pakar bahasa Indonesia, Ivan Lanin (2019), bahwa penulisan tahun ajaran yang tepat adalah 2025/2026, bukan 2025-2026.

📆 Kenapa Tahun Ajarannya Harus Dua Tahun?

Karena di Indonesia, tahun ajaran dimulai pada bulan Juli dan berakhir pada Juni tahun berikutnya. Dalam satu tahun ajaran, ada dua semester

Semester Ganjil (Juli–Desember)

Semester Genap (Januari–Juni)

Jadi kalau sekolah dimulai bulan Juli 2025 dan selesai Juni 2026, maka tahun ajarannya ditulis sebagai 2025/2026. Gampang, kan?

🎉 Selamat Datang di Tahun Ajaran Baru!

Apapun kelas atau jenjang kamu sekarang, semoga tahun ajaran baru ini jadi momen yang menyenangkan, penuh semangat, dan banyak hal baru yang bisa dipelajari. Yuk, mulai tahun ajaran 2025/2026 ini dengan semangat baru dan penulisan yang benar juga, ya!

Salam Literasi!


Kamis, 01 Mei 2025

Kita hidup di era masyarakat baru, masyarakat Digital. Hampir segala hal ditopang oleh internet. Dunia menjadi sangat dekat; cukup dengan satu sentuhan layar, kita terhubung dengan siapa pun, dimana pun. Namun, menjadi seperti dua sisi mata uang, ruang digital ini memungkinkan kita untuk melakukan hal baik sekaligus membuka peluang untuk hal-hal buruk.


Dalam konteks pendidikan, perubahan ini sangat terasa. Di ruang-ruang kelas hari ini, peserta didik kerap menyerap pengetahuan lebih banyak dari internet dibanding dari guru mereka sendiri. Coba saja kita lihat kenyataannya, ketika guru memberikan tugas atau tantangan, peserta didik cenderung langsung mencari solusi melalui mesin pencari. Dan itu bukanlah hal yang salah ataupun dilarang, bahkan seharusnya dimanfaatkan dengan bijak. Sehingga guru juga harus lebih bijak lagi memanfaatkan internet dalam beraktivitas di dunia maya. Jadilah seperti kata Ki Hajar Dewantara; Ing Ngarsa Sung Tulodo. Agar peserta didik menjadikan kita panutan terbaik saat mereka nantinya beraktivitas di tengah masyarakat digital.


Masalah utama kita saat ini bukanlah soal mengganti kurikulum atau menggulirkan kembali wacana Ujian Nasional. Sebab, kenyataannya kompetensi antara peserta didik di kota besar tidak bisa dipukul rata dengan mereka yang tinggal di daerah pedesaan, apalagi pelosok. Biarkanlah peserta didik bertumbuh bersama kearifan lokalnya, memelihara budaya sekitar tanpa mengabaikan kecakapan digital yang mereka perlukan.


Pembelajaran yang paling relevan saat ini adalah pembelajaran berbasis pendampingan teknologi. Guru perlu fokus pada penguatan literasi digital dasar, agar peserta didik mampu menjelajahi internet secara cerdas dan aman, sembari tetap membimbing mereka memahami materi yang telah tersusun dalam kurikulum. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membekali mereka untuk hidup selaras dengan tantangan zaman. 


Hal-hal di atas tidaklah cukup untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Upaya tersebut harus ditopang secara penuh oleh keluarga di rumah, karena bagaimanapun juga pendidikan dalam lingkungan keluarga adalah fondasi utama. Islam pun menempatkan pendidikan keluarga sebagai pilar pertama dan paling penting dalam membentuk karakter serta nilai-nilai kehidupan seorang anak, bahkan sebelum ia mengenal sekolah formal.


Seluruh usaha di atas, tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk mewujudkan partisipasi semesta dalam menciptakan pendidikan yang bermutu untuk semua.


Dengan cara ini, pendidikan kita tidak hanya mencetak individu yang pintar tetapi juga cerdas secara sosial dan bijak secara digital. Inilah langkah konkret untuk menciptakan generasi yang adaptif, berakar pada budaya lokal, dan siap menghadapi tantangan global.


Selamat Hari Pendidikan Nasional tahun 2025





Selasa, 29 April 2025


Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI telah merilis materi logo sebagai indentitas peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025. Kami merangkum link download logo Hardikas 2025 yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat Indonesia.

Materi logo ini tersedia dalam format PNG. Sehingga masyarakat dapat memilih sesuai kebutuhan, baik untuk keperluan desain, spanduk, hingga postingan medsos.

Selain itu, Kemendikdasmen juga menyediakan 3 versi desain logo yang memiliki perbedaan pada tata letak tulisan dan ukuran font. Selain itu, juga tersedia dalam dua pilihan warna tulisan (putih dan hitam).

Di artikel kli ini, RH CORNER menyediakan link download logo Hardiknas 2025 dalam format PNG transparan berkualitas tinggi. Untuk menggunakannya, anda cukup mengunduhnya.

Yuk cek linknya di bawah ini!

Filosofi Logo Hari Pendidikan Nasional 2025
Materi logo Hari Pendidikan Nasional 2025 yang diterbitkan Kemendikdasmen RI, logo Hardiknas 2025 menampilkan tiga sosok manusia berwarna merah, biru, dan abu-abu yang menjulang ke atas dengan gerakan dinamis dan penuh semangat. Ketiga sosok tersebut melambangkan keberagaman, kolaborasi, dan semangat kebersamaan dalam dunia pendidikan Indonesia.

Warna-warna yang digunakan menggambarkan semangat, kreativitas, energi positif, serta inklusivitas dalam proses pendidikan.

Sosok yang berada di tengah, berwarna biru dan mengarah paling tinggi, mengarah langsung ke sebuah bintang berwarna emas di atasnya. Bintang ini melambangkan cita-cita, harapan, dan tujuan mulia pendidikan yakni membentuk generasi unggul yang mampu meraih masa depan gemilang.

Tiga sosok yang bersatu juga mencerminkan keterlibatan tiga pilar pendidikan yakni peserta didik, pendidik, dan masyarakat.

Kemudian tulisan "HARDIKNAS 2025" dalam font tebal berwarna hitam memberi kesan kuat dan tegas, mencerminkan komitmen dan fokus bangsa dalam membangun pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Logo ini menyiratkan pesan bahwa pendidikan adalah upaya kolektif, inklusif, dan penuh semangat untuk mencapai bintang - simbol tertinggi dari ilmu pengetahuan, karakter, dan kemajuan bangsa.

Demikian kami sediakan tulisan dan link logo Hardiknas 2025. Gunakan dengan tepat, rayakan Hardiknas dengan semangat, dan tunjukkan komitmen kita pada pendidikan Indonesia. Selamat memperingati Hardiknas 2025!

_rh


Minggu, 13 Oktober 2024

 

Pendidikan merupakan sarana yang sangat penting bagi kemajuan sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia hendaknya diperhatikan dengan sangat baik oleh semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah. Pemerintah Indonesia telah menyelenggarakan pendidikan melalui pendidikan formal. Rangkaian pendidikan formal dimulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi. Dalam jenjang pendidikan tersebut, masyarakat makin sadar akan pentingnya pendidikan. Dibuktikan dengan kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya. Semakin banyaknya masyarakat yang sadar akan pendidikan, secara tidak langsung menuntut pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.


Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini praktek pendidikan formal di Indonesia sampai saat ini, ukuran keberhasilan seseorang hanya bergantung pada tinggi rendahnya nilai pengetahuan yang mereka miliki, baik itu melalui kegiatan evaluasi nilai ujian sekolah oleh pendidiknya maupun penilaian pemerintah pusat melalui ujian nasional. Akibatnya paradigma pendidikan yang tumbuh di masyarakat mengharuskan mereka untuk mencari cara mendapatkan nilai yang memenuhi standar yang telah ditentukan, termasuk dengan melakukan praktek kecurangan. Padahal jika kita menengok Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membetuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kretaif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.    

 

Salah satu kasus penyimpangan terhadap kejujuran akademik adalah kecurangan akademik. Menurut Deighton, kecurangan akademik merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara yang tidak jujur. Dengan kata lain perbuatan menyontek, plagiarisme, memalsukan sesuatu yang berhubungan dengan akademik dengan tujuan untuk mendapatkan keberhasilan dapat dikategorikan sebagai kecurangan akademik dan merupakan suatu bentuk penyimpangan.

 

Kejujuran erat kaitannya dengan moralitas. Bersikap jujur merupakan salah satu tanda kualitas moral seseorang. Untuk menjadi pribadi yang berkualitas tidaklah sulit. Diawali dengan langkah kecil yakni memperbaiki pola pikir. Margaret Thatcher seorang perdana menteri perempuan pertama Inggris pernah mengatakan “Perhatikan apa yang kita pikirkan, karena itu akan keluar menjadi ucapan, menjadi kata kata. Perhatikan apa yang kita ucapkan karena itu akan keluar menjadi tindakan. Perhatikan apa yang kita lakukan, karena itu diulang-ulang terus akan menjadi kebiasaan. Perhatikan kebiasaan kita mulai dari mata terbuka sampai tertutup kembali, karena itu akan menjadi karakter”. Apa yang dikatakan oleh Margaret dapat menjadi penguatan buat kita sekalian bahwa untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan mempunyai karakter yang baik maka harus diawali dengan pembenahan pola pikir yang baik pula. Dengan menjadi masyarakat yang mempunyai karakter yang baik maka kita akan mampu membangun sebuah masyarakat yang ideal.


Masyarakat yang ideal akan melahirkan masyarakat yang ideal pula yakni generasi emas. Generasi emas tidak melulu berbicara mengenai kecerdasan intelektual SDM-nya saja, melainkan karakter yang terbangun dalam SDM itu juga haruslah karakter emas agar terwujud SDM Unggul untuk Indonesia Maju sebagaimana tema HUT Republik Indonesia pada 17 Agustus 2019. Hakekatnya karakter emas itulah yang merupakan pondasi utama untuk membangun generasi emas. Salah satu indokator karakter emas yang harus dimiliki oleh semua orang adalah kejujuran. Terutama dalam bidang pendidikan, yakni kejujuran akademik.


Pendidikan karakter dapat menumbuhkan kejujuran akademik dalam diri seseorang. Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter manusia yang ideal di lingkungan pendidikan. Pendidikan karakter sering juga disebut sebagai pendidikan akhlak atau pendidikan moral, yakni pendidikan yang mengajarkan manusia pada nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan manusia. Salah satu muatan dalam pendidikan karakter adalah nilai kejujuran. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi pelaksanaan pendidikan karakter untuk menumbuhkan nilai kejujuran tersebut.

  

Adapun strategi pelaksanaan pendidikan karakter tersebut yaitu: Pertama, melalui pembelajaran di dalam kelas, yakni pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran tidak hanya untuk menilai kemampuan kognitif peserta didik, tetapi termasuk kejujuran dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Kedua keteladanan, yakni kejujuran akademik itu harus diaplikasikan oleh seluruh komponen pendidikan agar menjadi sebuah kebiasaan.   

Kedua cara itu akan terlaksana dengan baik apabila semua komponen pendidikan mampu menerapkannya dengan baik pula agar terwujud SDM Unggul untuk Indonesia Maju.

 

Diakhir tulisan ini, saya mengutip kalimat yang sering diungkapkan oleh negarawan dunia, “Lebih baik jadi orang gagal yang jujur, daripada orang yang sukses tapi penuh dengan kebohongan”. Manakah lebih baik bagi anda untuk dipilih??


Jika saya harus memilih, saya tidak akan memilih keduanya tapi saya akan mengatakan “Saya akan berusaha jadi orang sukses yang memegang teguh nilai-nilai kejujuran”.


Senin, 30 September 2024

Transformasi Digital yang Mendalam

Era digital abad 21 telah membawa perubahan yang signifikan dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, sektor pendidikan juga mengalami transformasi yang cukup pesat. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan akses yang lebih luas terhadap informasi dan sumber belajar.


Tantangan yang Dihadapi

Meskipun terdapat banyak potensi positif, pendidikan di Indonesia juga menghadapi sejumlah tantangan dalam era digital ini:

Kesenjangan Digital: Tidak semua daerah di Indonesia memiliki akses yang sama terhadap teknologi. Kesenjangan digital ini menyebabkan perbedaan kualitas pembelajaran antara daerah perkotaan dan pedesaan.

Kurangnya Infrastruktur: Infrastruktur teknologi yang memadai, seperti jaringan internet yang stabil dan perangkat komputer yang cukup, masih menjadi kendala di banyak sekolah.

Keterampilan Guru: Tidak semua guru memiliki kompetensi yang memadai dalam memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran.

Kurikulum: Kurikulum pendidikan di Indonesia masih perlu disesuaikan dengan tuntutan era digital, yang menuntut siswa memiliki keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.

 

Peluang yang Terbuka

Di balik tantangan tersebut, era digital juga membuka peluang besar bagi pendidikan di Indonesia:

Pembelajaran Daring: Pembelajaran daring memungkinkan siswa belajar kapan saja dan di mana saja, serta memberikan akses yang lebih luas terhadap materi pembelajaran.

Personalisasi Pembelajaran: Teknologi dapat digunakan untuk menyesuaikan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan gaya belajar masing-masing siswa.

Kolaborasi Global: Siswa dapat berkolaborasi dengan siswa dari negara lain melalui platform online, memperluas wawasan dan relasi mereka.

Inovasi Pembelajaran: Berbagai aplikasi dan platform pembelajaran yang inovatif dapat membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan efektif.

Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan

Untuk menghadapi tantangan dan memaksimalkan peluang yang ada, beberapa langkah perlu dilakukan:

Peningkatan Infrastruktur: Pemerintah perlu terus berupaya meningkatkan infrastruktur teknologi di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah-daerah yang masih tertinggal.

Pengembangan Kompetensi Guru: Guru perlu diberikan pelatihan yang intensif untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.

Pengembangan Kurikulum: Kurikulum pendidikan perlu terus diperbarui agar relevan dengan perkembangan zaman dan menitikberatkan pada pengembangan keterampilan abad 21.

Keterlibatan Semua Pihak: Semua pihak terkait, termasuk pemerintah, sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat, perlu bekerja sama untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas di era digital.

 

Kesimpulan

Era digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Pendidikan di Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang pesat jika mampu mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Dengan kerja sama semua pihak, pendidikan di Indonesia dapat menjadi lebih inklusif, relevan, dan berkualitas.



 







Subscribe Us

Artikel Populer

Total Tayangan Halaman