Minggu, 01 November 2026

Pelabuhan Perikanan Ogotua (PPO), Kecamatan Dampal Utara, menjadi pusat perhatian masyarakat pada Ahad, 01 November 2026. Ratusan bahkan diperkirakan mencapai ribuan pengunjung memadati kawasan pelabuhan untuk menghadiri Pesta dan Syukuran Nelayan Desa Ogotua 2026 yang mengusung tema “Takkalai di Sobalang Dotai Ruppu Dazi na Lele Tuali Dilolalangan.” Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Tidak hanya warga Desa Ogotua, masyarakat dari berbagai desa di Kecamatan Dampal Utara hingga kecamatan sekitar turut berdatangan untuk menyaksikan dan meramaikan salah satu agenda budaya dan kemasyarakatan terbesar di wilayah pesisir tersebut.


Kegiatan yang telah menjadi tradisi masyarakat pelaut Mandar ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting daerah. Tampak hadir Bupati Tolitoli, H. Amran H. Yahya, bersama Ketua DPRD Kabupaten Tolitoli, Hj. Sriyanti Dg. Parebba. Turut hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Tolitoli, Moh. Asrul Bantilan, S.Sos beserta istri, sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), unsur Forkopimca Dampal Utara, para kepala desa se-Kecamatan Dampal Utara, Camat Dampal Selatan, kepala puskesmas, hingga perwakilan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Kehadiran berbagai unsur pemerintah tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap masyarakat nelayan dan potensi sektor kelautan yang dimiliki wilayah Ogotua.

Rangkaian acara diawali dengan kegiatan seremonial yang meliputi pembacaan doa, laporan panitia oleh Ketua Panitia, Syarif Pamboang, serta sambutan dari perwakilan nelayan dan sejumlah tokoh, yang ditutup dengan sambutan Bupati Tolitoli.

Pada kesempatan tersebut, Syarif Pamboang menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tahun 2026 memperoleh dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tolitoli melalui Dinas Perikanan dengan nilai bantuan sekitar Rp30 juta. Selain itu, berbagai pihak swasta dan pelaku usaha perikanan turut berpartisipasi memberikan kontribusi. Beberapa di antaranya yaitu CK 02, CK 03, Doa Bersama, Mina Maritim, Sinar Samudera, Doa Restu, Samsam, Cahaya Bulan, Erna, Fortuna 99, Fortuna 24, Arta Jaya, Serri, serta sejumlah punggawa darat (sebutan lokal masyarakat Mandar Ogotua untuk pemilik atau pengelola armada perikanan yang tidak ikut melaut) dari armada perikanan yang beroperasi di wilayah Ogotua. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan kegiatan tidak terlepas dari kerja sama dan dukungan seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan masyarakat nelayan. Selain dukungan untuk pelaksanaan kegiatan seremonial, sejumlah pihak juga memberikan kontribusi untuk hadiah perlombaan, di antaranya Arta Jaya, Doa Restu, Hajir, Fortuna, dan CK.

Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan komunitas nelayan Ogotua, Rusman Sulaimana, pemilik ARTA JAYA. Dalam sambutannya, Rusman menyampaikan aspirasi para nelayan terkait kebutuhan mendesak akan keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di wilayah Ogotua. Menurutnya, selama ini para nelayan harus menempuh perjalanan hingga ke Kota Tolitoli untuk memperoleh solar yang merupakan kebutuhan utama dalam aktivitas penangkapan ikan. Kondisi tersebut kerap menjadi kendala bagi para nelayan. Tidak jarang mereka harus menunda keberangkatan melaut karena keterbatasan akses dan pasokan bahan bakar. Oleh karena itu, Rusman berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah guna menghadirkan fasilitas pengisian bahan bakar yang lebih dekat, mudah dijangkau, dan mampu menunjang kelancaran aktivitas masyarakat nelayan Ogotua.


Aspirasi tersebut mendapat respons positif dari Pemerintah Kabupaten Tolitoli. Dalam sambutannya, Bupati Tolitoli, H. Amran H. Yahya, menyatakan komitmennya untuk mengupayakan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di wilayah Ogotua. Menurutnya, potensi sektor kelautan dan perikanan di kawasan tersebut sangat besar sehingga layak memperoleh dukungan fasilitas yang memadai. Selain itu, Bupati juga menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Pesta dan Syukuran Nelayan pada tahun 2027. Dalam kesempatan tersebut, ia menyebutkan rencana alokasi dukungan anggaran sebesar Rp150 juta untuk penyelenggaraan kegiatan tahun depan, ditambah Rp50 juta yang akan diperuntukkan bagi hadiah perlombaan dan pembiayaan berbagai kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian acara. Namun demikian, dukungan tersebut disertai harapan agar pelaksanaan kegiatan tahun depan dapat berlangsung lebih meriah dengan melibatkan seluruh komunitas nelayan di Kabupaten Tolitoli. “Kegiatan tahun depan harus lebih meriah lagi. Saya mengusulkan agar kegiatan dipusatkan di Ogotua dan mengundang seluruh nelayan yang ada di Tolitoli, mulai dari Dampal Selatan sampai Tolitoli Utara. Itu pesan saya” tutup Bupati.


Memasuki puncak acara, suasana semakin semarak dengan hadirnya hiburan rakyat yang dipersembahkan oleh CK Music Entertainment. Artis lokal Kabupaten Tolitoli, termasuk Zaskia Buana dan rekan-rekannya, dijadwalkan menghibur masyarakat hingga malam hari dalam rangkaian acara ramah tamah dan penyerahan hadiah perlombaan. Berbagai perlombaan yang digelar, seperti lomba renang, lari karung putra dan putri, lomba dayung, hingga balap katinting, menjadi daya tarik tersendiri yang semakin mempererat semangat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat pesisir. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada malam hari dalam acara ramah tamah yang sekaligus menjadi penutupan resmi rangkaian kegiatan. Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Komunitas Nelayan Ogotua, H. Mustakim H. Zakaria, Danramil Dampal Utara, Kapolsek Dampal Utara, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Melalui kegiatan ini, Pesta dan Syukuran Nelayan Ogotua tidak hanya menjadi ruang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah pelestarian budaya, penyampaian aspirasi nelayan, serta penguatan sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam mendorong kemajuan sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Tolitoli. Selain itu, kegiatan ini turut memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat di Kecamatan Dampal Utara, khususnya Desa Ogotua. Tingginya antusiasme para pelaku UMKM untuk menjajakan berbagai produk dan dagangannya kepada pengunjung menunjukkan bahwa kegiatan ini juga berkontribusi dalam meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.


Minggu, 16 Agustus 2026

 


Refleksi Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.


Kita hidup pada zaman yang sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Dahulu, untuk memperoleh informasi seseorang harus membuka buku, mencari referensi di perpustakaan, atau bertanya kepada mereka yang dianggap lebih berpengalaman. Hari ini, hanya dengan beberapa sentuhan jari pada telepon genggam, jutaan informasi dapat hadir dalam hitungan detik. Bahkan kini, manusia telah menciptakan alat yang mampu menjawab pertanyaan, membuat tulisan, menyusun laporan, menerjemahkan bahasa, merancang gambar, hingga membantu mengambil keputusan. Dunia menyebutnya sebagai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).


Perkembangan ini merupakan pencapaian luar biasa dalam sejarah peradaban manusia. Namun ada sebuah pelajaran penting yang perlu kita renungkan bersama: Semakin pintar alat yang digunakan manusia untuk membantu pekerjaannya, semakin besar pula kehati-hatian yang harus dimiliki manusia dalam membaca fakta dan hasil yang diberikan alat tersebut.


Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung pesan yang sangat besar, terutama bagi kita yang berprofesi sebagai guru.


Pada masa lalu, ketika mesin hitung pertama kali ditemukan, manusia tidak lagi perlu menghitung angka secara manual. Ketika komputer hadir, banyak pekerjaan administrasi menjadi lebih cepat. Saat internet berkembang, akses pengetahuan terbuka semakin luas. Kini, AI mampu mengolah informasi dalam jumlah besar dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah dipahami. Akan tetapi, secanggih apapun sebuah alat, ia tetaplah alat. Alat tidak memiliki hati nurani. Alat tidak memiliki tanggung jawab moral. Alat tidak memahami nilai, budaya, dan karakter sebagaimana manusia memahaminya.


Karena itu, kecerdasan sebuah alat tidak boleh menggantikan kebijaksanaan manusia.


Di sinilah peran guru menjadi semakin penting. Ironisnya, ketika teknologi semakin pintar, sebagian manusia justru berisiko menjadi kurang kritis. Banyak orang menerima informasi begitu saja tanpa melakukan verifikasi. Banyak tulisan yang langsung dipercaya karena terlihat meyakinkan. Banyak gambar dan video yang dianggap nyata padahal hasil rekayasa digital. Bahkan tidak sedikit tugas, laporan, dan karya ilmiah yang sebenarnya mengandung kesalahan, namun luput dari perhatian karena dibuat oleh sistem yang dianggap cerdas.


Sebagai guru, kita tidak boleh terjebak dalam sikap demikian.


Guru adalah pendidik yang bertugas menanamkan kemampuan berpikir, bukan sekadar memberikan jawaban. Jika siswa hanya diajarkan menerima hasil yang muncul di layar tanpa proses berpikir kritis, maka pendidikan akan kehilangan ruhnya. Sekolah tidak lagi menjadi tempat tumbuhnya nalar, tetapi sekadar tempat mengonsumsi informasi.


Hari ini, tantangan guru bukan lagi kurangnya informasi, melainkan melimpahnya informasi. Tantangan guru bukan lagi mencari jawaban, tetapi menilai apakah jawaban tersebut benar. Tantangan guru bukan lagi mengajarkan cara menemukan data, tetapi mengajarkan bagaimana memverifikasi data.


Kemerdekaan Indonesia yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus sesungguhnya memberikan pelajaran yang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Para pendiri bangsa tidak memperoleh kemerdekaan hanya karena menerima informasi yang diberikan pihak lain. Mereka berpikir, menganalisis, berdiskusi, dan berjuang dengan penuh kesadaran. Kemerdekaan lahir dari keberanian menggunakan akal sehat dan kebijaksanaan.


Di era digital, kita membutuhkan bentuk kemerdekaan yang baru, yaitu Kemerdekaan Berpikir.


Kemerdekaan berpikir adalah kemampuan untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Kemerdekaan berpikir adalah keberanian untuk bertanya ketika menemukan sesuatu yang meragukan. Kemerdekaan berpikir adalah kesanggupan untuk memeriksa kembali fakta sebelum menyimpulkan sesuatu.


Guru merupakan garda terdepan dalam membangun kemerdekaan berpikir tersebut.


Ketika siswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, tugas guru bukan semata-mata melarang. Guru perlu membimbing agar siswa mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Guru perlu mengajarkan bahwa hasil dari AI bukanlah kebenaran mutlak. Hasil tersebut harus dibaca, ditelaah, diperiksa sumbernya, dibandingkan dengan referensi lain, dan disesuaikan dengan konteks yang ada.


Justru di tengah kecanggihan teknologi, nilai-nilai dasar pendidikan menjadi semakin penting. Kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan sikap kritis harus terus ditanamkan. Sebab teknologi yang canggih tanpa karakter yang kuat dapat menghasilkan generasi yang pintar menggunakan alat, tetapi lemah dalam mengambil keputusan.


Lebih jauh lagi, keberadaan AI tidak boleh membuat guru merasa tersaingi. Sebaliknya, AI harus dilihat sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Teknologi dapat membantu menyusun administrasi, mencari referensi, membuat bahan ajar, atau menganalisis data belajar siswa. Namun ada satu hal yang tidak dapat digantikan oleh mesin, yaitu sentuhan kemanusiaan seorang guru.


Tidak ada teknologi yang mampu menggantikan ketulusan guru saat menyemangati siswa yang hampir menyerah. Tidak ada kecerdasan buatan yang mampu menggantikan kehangatan seorang guru yang mendengarkan keluh kesah peserta didiknya. Tidak ada algoritma yang mampu menumbuhkan karakter dan akhlak mulia sebagaimana yang dilakukan seorang pendidik.


Oleh karena itu, semakin maju teknologi, semakin tinggi pula nilai profesi guru. Bukan karena guru mengetahui semua jawaban, tetapi karena guru mampu membimbing peserta didik untuk menemukan jawaban yang benar dan bermanfaat.


Pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini, marilah kita memperkuat komitmen sebagai pendidik yang merdeka dalam berpikir, bijak dalam memanfaatkan teknologi, dan kritis dalam menilai setiap informasi. Jangan sampai kecanggihan alat membuat kita kehilangan kemampuan untuk berpikir. Jangan sampai kemudahan teknologi menjadikan kita malas memeriksa fakta. Jangan sampai kecerdasan buatan membuat kita melupakan pentingnya kecerdasan moral dan kemanusiaan.


Mari kita wujudkan sekolah yang tidak hanya menghasilkan siswa yang cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, jujur, bertanggung jawab, dan mencintai kebenaran.


Karena sesungguhnya, kemerdekaan yang paling berharga bukan hanya kemerdekaan dari penjajahan fisik, melainkan kemerdekaan akal pikiran untuk tetap mencari kebenaran di tengah derasnya arus informasi.


Dirgahayu Republik Indonesia.


Merdeka dalam berpikir, bijak dalam teknologi, dan mulia dalam mendidik.


Merdeka!🇮🇩




Senin, 24 November 2025

Tinabogan – Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025 di Kecamatan Dondo berlangsung khidmat dan meriah, Selasa (25/11/2025). Acara yang dipusatkan di Tinabogan ini menjadi momentum refleksi bagi para tenaga pendidik di wilayah tersebut.


Ketua Panitia Pelaksana, Moh. Aidin, melaporkan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi. Tercatat, tidak kurang dari 300 peserta memadati lokasi acara. Jumlah ini belum termasuk tamu undangan dari unsur Forkopimcam (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan) Dondo serta mahasiswa KKN STKIP Abmul Dampal Selatan yang turut hadir memberikan dukungan.



"Kegiatan hari ini adalah acara puncak. Sebelumnya, rangkaian kegiatan telah kami awali dengan Jalan Sehat dan Bakti Sosial yang dilaksanakan pada tanggal 23 November lalu," ujar Aidin.


Dalam sambutannya, Ketua PGRI Kecamatan Dondo, Al Zikir, mengajak seluruh guru di Kecamatan Dondo menjadikan momentum ini untuk melakukan refleksi mendalam terhadap kinerja di satuan pendidikan masing-masing. Hal ini sejalan dengan tema HGN Tahun 2025, yakni "Guru Hebat, Indonesia Kuat".


"Sudahkah kita meningkatkan kompetensi diri untuk mewujudkan Guru Bermutu Indonesia Maju bersama PGRI wujudkan Indonesia Emas sesuai dengan tema HUT ke-80 PGRI ini?" tanya Al Zikir di hadapan para peserta.


Lebih lanjut, Al Zikir menekankan pentingnya sinergi dan kekompakan internal organisasi. Ia berharap seluruh pengurus dan anggota terus solid dalam menyukseskan setiap agenda PGRI Kecamatan Dondo ke depannya.


Apresiasi dan Hiburan Seni

Suasana peringatan semakin semarak dengan adanya panggung hiburan yang menampilkan kreativitas siswa. Penampilan tersebut meliputi tarian dari SDN 1 Tinabogan, tari kreasi Mandar dari SDN Malullu, tarian TK Bhayangkari 08 Dondo, serta pembacaan puisi oleh siswa SDN 1 Tinabogan.



Pada kesempatan yang sama, PGRI Kecamatan Dondo juga memberikan penghargaan kepada tiga sosok inspiratif di bidang pendidikan, yaitu:

Asmaul Husna (PAUD Mawaddah Warahmah) sebagai Guru Dedikatif jenjang PAUD.

Anshar, S.Pd. (SDN 1 Tinabogan) sebagai Guru Dedikatif jenjang SD.

Andi Ahmad, S.Pd. (SDN 2 Tinabogan) sebagai Kepala Sekolah Transformatif jenjang SD.


Terobosan Digital PGRI Dondo

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, rangkaian HUT ke-80 ini diwarnai dengan inovasi menarik berupa Lomba Dokumentasi Momen HUT PGRI. Lomba ini menyasar seluruh peserta yang hadir, sehingga terlihat banyak bapak dan ibu guru yang antusias mengambil konten video dan foto selama acara berlangsung.




Salah satu pengurus PGRI Kecamatan Dondo yang juga pegiat media sosial, Rahmat, menjelaskan bahwa lomba ini bertujuan untuk menggandeng guru agar lebih aktif di ruang digital.


"Lomba ini dilaksanakan untuk mengajak guru mempublikasikan kegiatan positif yang dilaksanakan oleh PGRI. Ini adalah upaya menunjukkan jati diri PGRI Dondo kepada khalayak luas, bahwa organisasi ini benar-benar hadir, baik secara nyata di masyarakat maupun di dunia maya," jelas Rahmat.


Ia menambahkan, bersosial media bagi anggota PGRI bukan sekedar menyalurkan potensi digital. "Ini juga sebagai bahan pembuktian dan rekam jejak, jika suatu saat nanti dimintai pertanggungjawaban publik atas kinerjanya di PGRI." pungkasnya.


Minggu, 23 November 2025

Dalam rangka menyambut HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025, PGRI Kecamatan Dondo menggelar rangkaian kegiatan meriah yang sarat makna. Kegiatan ini menjadi momentum perdana bagi kepengurusan baru periode 2025-2030 yang baru saja dilantik beberapa bulan lalu.

Rangkaian acara diawali dengan kegiatan jalan sehat di pagi hari yang dipusatkan di Desa Tinabogan. Acara yang dimulai pukul 07.00 WITA ini berlangsung semarak dengan dihadiri oleh seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) di wilayah Kecamatan Dondo. Tak kurang dari 500 peserta memadati lokasi hingga acara selesai sekitar pukul 09.00 WITA. Kemeriahan semakin terasa dengan adanya pembagian doorprize bagi para peserta yang beruntung.


Selepas jalan sehat, kegiatan berlanjut dengan aksi sosial yang menyentuh hati. Pada pukul 11.00 WITA, rombongan PGRI bergerak menuju Desa Anggasan untuk melaksanakan bakti sosial. Tahun ini, berdasarkan koordinasi dengan pemerintah desa setempat, PGRI Kecamatan Dondo menyalurkan paket sembako kepada kurang lebih 70 kepala keluarga yang membutuhkan.


Ketua PGRI Kecamatan Dondo, Al Zikir, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mempererat sinergi dan kebersamaan antar-pengurus serta anggota, sekaligus menunjukkan kepedulian nyata terhadap sesama.


"Apa yang kami berikan hari ini mungkin tidaklah seberapa. Namun, jangan dilihat berapa jumlahnya, tapi mari kita saling membantu dan mendoakan agar kegiatan positif semacam ini bisa terus berlanjut di masa mendatang," ujar Al Zikir dalam sambutannya di Gedung Serbaguna Desa Anggasan.


Hal senada disampaikan oleh Korwil Disdikbud Kecamatan Dondo, Wisno Mahiya. Ia mengapresiasi langkah PGRI yang menjadikan kegiatan sosial sebagai rutinitas.


"Kami berencana dengan tekad kuat untuk menyentuh semua masyarakat yang membutuhkan di wilayah pedalaman Kecamatan Dondo," tegas Wisno. Ia juga menambahkan permohonan agar seluruh pihak, khususnya para GTK, terus turut andil dalam kegiatan positif seperti ini.


Wira Shinau, salah satu pengurus PGRI Kabupaten Tolitoli yang turut hadir, juga memberikan apresiasi. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat mendukung program pemerintah, khususnya terkait ketahanan pangan.


Ke depannya, Korwil Disdikbud Kecamatan Dondo berharap kegiatan sosial ini tidak hanya dilaksanakan saat peringatan Hari Guru saja, tetapi juga pada momen penting lainnya seperti Hari Pendidikan Nasional dan hari-hari besar lainnya.




Selasa, 20 Mei 2025



📚Tahun Ajaran atau Tahun Pelajaran? Yuk, Tulis yang Benar!

Halo sobat sekolah! 👋

Setelah liburan semester genap usai, saatnya kita kembali ke bangku sekolah dan menyambut tahun ajaran baru. Tapi, pernah nggak sih kamu bingung dengan istilah tahun ajaran dan tahun pelajaran? Soalnya, nggak sedikit loh informasi dari sekolah yang menuliskannya beda-beda. Jadi, mana yang benar?

📖 Tahun Ajaran vs. Tahun Pelajaran

Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata ajaran adalah segala sesuatu yang diajarkan. Sedangkan pelajaran adalah yang dipelajari atau diajarkan, contohnya: pelajaran matematika, fisika, dan lainnya.

Nah, dalam KBBI juga ada istilah tahun ajaran yang berarti masa belajar dalam tahun tertentu. Jadi, yang benar untuk menyebut masa belajar satu tahun di sekolah adalah tahun ajaran, bukan tahun pelajaran.

✔️ Contoh penulisan yang benar:
Sistem Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2025/2026

✍️ Bagaimana Cara Menulis Tahunnya?

Nah, ini juga penting! Banyak yang masih keliru menulis tahun ajaran pakai tanda minus, misalnya 2025-2026. Padahal, yang benar adalah menggunakan garis miring (/) seperti ini:
➡️ 2025/2026

Kenapa? Karena garis miring dipakai untuk menunjukkan dua tahun kalender dalam satu tahun ajaran. Sementara tanda minus biasanya digunakan untuk hal lain, seperti skor pertandingan (contoh: 3–1).

Hal ini juga ditegaskan oleh pakar bahasa Indonesia, Ivan Lanin (2019), bahwa penulisan tahun ajaran yang tepat adalah 2025/2026, bukan 2025-2026.

📆 Kenapa Tahun Ajarannya Harus Dua Tahun?

Karena di Indonesia, tahun ajaran dimulai pada bulan Juli dan berakhir pada Juni tahun berikutnya. Dalam satu tahun ajaran, ada dua semester

Semester Ganjil (Juli–Desember)

Semester Genap (Januari–Juni)

Jadi kalau sekolah dimulai bulan Juli 2025 dan selesai Juni 2026, maka tahun ajarannya ditulis sebagai 2025/2026. Gampang, kan?

🎉 Selamat Datang di Tahun Ajaran Baru!

Apapun kelas atau jenjang kamu sekarang, semoga tahun ajaran baru ini jadi momen yang menyenangkan, penuh semangat, dan banyak hal baru yang bisa dipelajari. Yuk, mulai tahun ajaran 2025/2026 ini dengan semangat baru dan penulisan yang benar juga, ya!

Salam Literasi!


Subscribe Us

Artikel Populer

Total Tayangan Halaman