Minggu, 16 Agustus 2026

 


Refleksi Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.


Kita hidup pada zaman yang sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Dahulu, untuk memperoleh informasi seseorang harus membuka buku, mencari referensi di perpustakaan, atau bertanya kepada mereka yang dianggap lebih berpengalaman. Hari ini, hanya dengan beberapa sentuhan jari pada telepon genggam, jutaan informasi dapat hadir dalam hitungan detik. Bahkan kini, manusia telah menciptakan alat yang mampu menjawab pertanyaan, membuat tulisan, menyusun laporan, menerjemahkan bahasa, merancang gambar, hingga membantu mengambil keputusan. Dunia menyebutnya sebagai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).


Perkembangan ini merupakan pencapaian luar biasa dalam sejarah peradaban manusia. Namun ada sebuah pelajaran penting yang perlu kita renungkan bersama: Semakin pintar alat yang digunakan manusia untuk membantu pekerjaannya, semakin besar pula kehati-hatian yang harus dimiliki manusia dalam membaca fakta dan hasil yang diberikan alat tersebut.


Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung pesan yang sangat besar, terutama bagi kita yang berprofesi sebagai guru.


Pada masa lalu, ketika mesin hitung pertama kali ditemukan, manusia tidak lagi perlu menghitung angka secara manual. Ketika komputer hadir, banyak pekerjaan administrasi menjadi lebih cepat. Saat internet berkembang, akses pengetahuan terbuka semakin luas. Kini, AI mampu mengolah informasi dalam jumlah besar dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah dipahami. Akan tetapi, secanggih apapun sebuah alat, ia tetaplah alat. Alat tidak memiliki hati nurani. Alat tidak memiliki tanggung jawab moral. Alat tidak memahami nilai, budaya, dan karakter sebagaimana manusia memahaminya.


Karena itu, kecerdasan sebuah alat tidak boleh menggantikan kebijaksanaan manusia.


Di sinilah peran guru menjadi semakin penting. Ironisnya, ketika teknologi semakin pintar, sebagian manusia justru berisiko menjadi kurang kritis. Banyak orang menerima informasi begitu saja tanpa melakukan verifikasi. Banyak tulisan yang langsung dipercaya karena terlihat meyakinkan. Banyak gambar dan video yang dianggap nyata padahal hasil rekayasa digital. Bahkan tidak sedikit tugas, laporan, dan karya ilmiah yang sebenarnya mengandung kesalahan, namun luput dari perhatian karena dibuat oleh sistem yang dianggap cerdas.


Sebagai guru, kita tidak boleh terjebak dalam sikap demikian.


Guru adalah pendidik yang bertugas menanamkan kemampuan berpikir, bukan sekadar memberikan jawaban. Jika siswa hanya diajarkan menerima hasil yang muncul di layar tanpa proses berpikir kritis, maka pendidikan akan kehilangan ruhnya. Sekolah tidak lagi menjadi tempat tumbuhnya nalar, tetapi sekadar tempat mengonsumsi informasi.


Hari ini, tantangan guru bukan lagi kurangnya informasi, melainkan melimpahnya informasi. Tantangan guru bukan lagi mencari jawaban, tetapi menilai apakah jawaban tersebut benar. Tantangan guru bukan lagi mengajarkan cara menemukan data, tetapi mengajarkan bagaimana memverifikasi data.


Kemerdekaan Indonesia yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus sesungguhnya memberikan pelajaran yang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Para pendiri bangsa tidak memperoleh kemerdekaan hanya karena menerima informasi yang diberikan pihak lain. Mereka berpikir, menganalisis, berdiskusi, dan berjuang dengan penuh kesadaran. Kemerdekaan lahir dari keberanian menggunakan akal sehat dan kebijaksanaan.


Di era digital, kita membutuhkan bentuk kemerdekaan yang baru, yaitu Kemerdekaan Berpikir.


Kemerdekaan berpikir adalah kemampuan untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Kemerdekaan berpikir adalah keberanian untuk bertanya ketika menemukan sesuatu yang meragukan. Kemerdekaan berpikir adalah kesanggupan untuk memeriksa kembali fakta sebelum menyimpulkan sesuatu.


Guru merupakan garda terdepan dalam membangun kemerdekaan berpikir tersebut.


Ketika siswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, tugas guru bukan semata-mata melarang. Guru perlu membimbing agar siswa mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Guru perlu mengajarkan bahwa hasil dari AI bukanlah kebenaran mutlak. Hasil tersebut harus dibaca, ditelaah, diperiksa sumbernya, dibandingkan dengan referensi lain, dan disesuaikan dengan konteks yang ada.


Justru di tengah kecanggihan teknologi, nilai-nilai dasar pendidikan menjadi semakin penting. Kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan sikap kritis harus terus ditanamkan. Sebab teknologi yang canggih tanpa karakter yang kuat dapat menghasilkan generasi yang pintar menggunakan alat, tetapi lemah dalam mengambil keputusan.


Lebih jauh lagi, keberadaan AI tidak boleh membuat guru merasa tersaingi. Sebaliknya, AI harus dilihat sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Teknologi dapat membantu menyusun administrasi, mencari referensi, membuat bahan ajar, atau menganalisis data belajar siswa. Namun ada satu hal yang tidak dapat digantikan oleh mesin, yaitu sentuhan kemanusiaan seorang guru.


Tidak ada teknologi yang mampu menggantikan ketulusan guru saat menyemangati siswa yang hampir menyerah. Tidak ada kecerdasan buatan yang mampu menggantikan kehangatan seorang guru yang mendengarkan keluh kesah peserta didiknya. Tidak ada algoritma yang mampu menumbuhkan karakter dan akhlak mulia sebagaimana yang dilakukan seorang pendidik.


Oleh karena itu, semakin maju teknologi, semakin tinggi pula nilai profesi guru. Bukan karena guru mengetahui semua jawaban, tetapi karena guru mampu membimbing peserta didik untuk menemukan jawaban yang benar dan bermanfaat.


Pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini, marilah kita memperkuat komitmen sebagai pendidik yang merdeka dalam berpikir, bijak dalam memanfaatkan teknologi, dan kritis dalam menilai setiap informasi. Jangan sampai kecanggihan alat membuat kita kehilangan kemampuan untuk berpikir. Jangan sampai kemudahan teknologi menjadikan kita malas memeriksa fakta. Jangan sampai kecerdasan buatan membuat kita melupakan pentingnya kecerdasan moral dan kemanusiaan.


Mari kita wujudkan sekolah yang tidak hanya menghasilkan siswa yang cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, jujur, bertanggung jawab, dan mencintai kebenaran.


Karena sesungguhnya, kemerdekaan yang paling berharga bukan hanya kemerdekaan dari penjajahan fisik, melainkan kemerdekaan akal pikiran untuk tetap mencari kebenaran di tengah derasnya arus informasi.


Dirgahayu Republik Indonesia.


Merdeka dalam berpikir, bijak dalam teknologi, dan mulia dalam mendidik.


Merdeka!🇮🇩




Senin, 24 November 2025

Tinabogan – Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025 di Kecamatan Dondo berlangsung khidmat dan meriah, Selasa (25/11/2025). Acara yang dipusatkan di Tinabogan ini menjadi momentum refleksi bagi para tenaga pendidik di wilayah tersebut.


Ketua Panitia Pelaksana, Moh. Aidin, melaporkan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi. Tercatat, tidak kurang dari 300 peserta memadati lokasi acara. Jumlah ini belum termasuk tamu undangan dari unsur Forkopimcam (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan) Dondo serta mahasiswa KKN STKIP Abmul Dampal Selatan yang turut hadir memberikan dukungan.



"Kegiatan hari ini adalah acara puncak. Sebelumnya, rangkaian kegiatan telah kami awali dengan Jalan Sehat dan Bakti Sosial yang dilaksanakan pada tanggal 23 November lalu," ujar Aidin.


Dalam sambutannya, Ketua PGRI Kecamatan Dondo, Al Zikir, mengajak seluruh guru di Kecamatan Dondo menjadikan momentum ini untuk melakukan refleksi mendalam terhadap kinerja di satuan pendidikan masing-masing. Hal ini sejalan dengan tema HGN Tahun 2025, yakni "Guru Hebat, Indonesia Kuat".


"Sudahkah kita meningkatkan kompetensi diri untuk mewujudkan Guru Bermutu Indonesia Maju bersama PGRI wujudkan Indonesia Emas sesuai dengan tema HUT ke-80 PGRI ini?" tanya Al Zikir di hadapan para peserta.


Lebih lanjut, Al Zikir menekankan pentingnya sinergi dan kekompakan internal organisasi. Ia berharap seluruh pengurus dan anggota terus solid dalam menyukseskan setiap agenda PGRI Kecamatan Dondo ke depannya.


Apresiasi dan Hiburan Seni

Suasana peringatan semakin semarak dengan adanya panggung hiburan yang menampilkan kreativitas siswa. Penampilan tersebut meliputi tarian dari SDN 1 Tinabogan, tari kreasi Mandar dari SDN Malullu, tarian TK Bhayangkari 08 Dondo, serta pembacaan puisi oleh siswa SDN 1 Tinabogan.



Pada kesempatan yang sama, PGRI Kecamatan Dondo juga memberikan penghargaan kepada tiga sosok inspiratif di bidang pendidikan, yaitu:

Asmaul Husna (PAUD Mawaddah Warahmah) sebagai Guru Dedikatif jenjang PAUD.

Anshar, S.Pd. (SDN 1 Tinabogan) sebagai Guru Dedikatif jenjang SD.

Andi Ahmad, S.Pd. (SDN 2 Tinabogan) sebagai Kepala Sekolah Transformatif jenjang SD.


Terobosan Digital PGRI Dondo

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, rangkaian HUT ke-80 ini diwarnai dengan inovasi menarik berupa Lomba Dokumentasi Momen HUT PGRI. Lomba ini menyasar seluruh peserta yang hadir, sehingga terlihat banyak bapak dan ibu guru yang antusias mengambil konten video dan foto selama acara berlangsung.




Salah satu pengurus PGRI Kecamatan Dondo yang juga pegiat media sosial, Rahmat, menjelaskan bahwa lomba ini bertujuan untuk menggandeng guru agar lebih aktif di ruang digital.


"Lomba ini dilaksanakan untuk mengajak guru mempublikasikan kegiatan positif yang dilaksanakan oleh PGRI. Ini adalah upaya menunjukkan jati diri PGRI Dondo kepada khalayak luas, bahwa organisasi ini benar-benar hadir, baik secara nyata di masyarakat maupun di dunia maya," jelas Rahmat.


Ia menambahkan, bersosial media bagi anggota PGRI bukan sekedar menyalurkan potensi digital. "Ini juga sebagai bahan pembuktian dan rekam jejak, jika suatu saat nanti dimintai pertanggungjawaban publik atas kinerjanya di PGRI." pungkasnya.


Minggu, 23 November 2025

Dalam rangka menyambut HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025, PGRI Kecamatan Dondo menggelar rangkaian kegiatan meriah yang sarat makna. Kegiatan ini menjadi momentum perdana bagi kepengurusan baru periode 2025-2030 yang baru saja dilantik beberapa bulan lalu.

Rangkaian acara diawali dengan kegiatan jalan sehat di pagi hari yang dipusatkan di Desa Tinabogan. Acara yang dimulai pukul 07.00 WITA ini berlangsung semarak dengan dihadiri oleh seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) di wilayah Kecamatan Dondo. Tak kurang dari 500 peserta memadati lokasi hingga acara selesai sekitar pukul 09.00 WITA. Kemeriahan semakin terasa dengan adanya pembagian doorprize bagi para peserta yang beruntung.


Selepas jalan sehat, kegiatan berlanjut dengan aksi sosial yang menyentuh hati. Pada pukul 11.00 WITA, rombongan PGRI bergerak menuju Desa Anggasan untuk melaksanakan bakti sosial. Tahun ini, berdasarkan koordinasi dengan pemerintah desa setempat, PGRI Kecamatan Dondo menyalurkan paket sembako kepada kurang lebih 70 kepala keluarga yang membutuhkan.


Ketua PGRI Kecamatan Dondo, Al Zikir, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mempererat sinergi dan kebersamaan antar-pengurus serta anggota, sekaligus menunjukkan kepedulian nyata terhadap sesama.


"Apa yang kami berikan hari ini mungkin tidaklah seberapa. Namun, jangan dilihat berapa jumlahnya, tapi mari kita saling membantu dan mendoakan agar kegiatan positif semacam ini bisa terus berlanjut di masa mendatang," ujar Al Zikir dalam sambutannya di Gedung Serbaguna Desa Anggasan.


Hal senada disampaikan oleh Korwil Disdikbud Kecamatan Dondo, Wisno Mahiya. Ia mengapresiasi langkah PGRI yang menjadikan kegiatan sosial sebagai rutinitas.


"Kami berencana dengan tekad kuat untuk menyentuh semua masyarakat yang membutuhkan di wilayah pedalaman Kecamatan Dondo," tegas Wisno. Ia juga menambahkan permohonan agar seluruh pihak, khususnya para GTK, terus turut andil dalam kegiatan positif seperti ini.


Wira Shinau, salah satu pengurus PGRI Kabupaten Tolitoli yang turut hadir, juga memberikan apresiasi. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat mendukung program pemerintah, khususnya terkait ketahanan pangan.


Ke depannya, Korwil Disdikbud Kecamatan Dondo berharap kegiatan sosial ini tidak hanya dilaksanakan saat peringatan Hari Guru saja, tetapi juga pada momen penting lainnya seperti Hari Pendidikan Nasional dan hari-hari besar lainnya.




Selasa, 20 Mei 2025



📚Tahun Ajaran atau Tahun Pelajaran? Yuk, Tulis yang Benar!

Halo sobat sekolah! 👋

Setelah liburan semester genap usai, saatnya kita kembali ke bangku sekolah dan menyambut tahun ajaran baru. Tapi, pernah nggak sih kamu bingung dengan istilah tahun ajaran dan tahun pelajaran? Soalnya, nggak sedikit loh informasi dari sekolah yang menuliskannya beda-beda. Jadi, mana yang benar?

📖 Tahun Ajaran vs. Tahun Pelajaran

Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata ajaran adalah segala sesuatu yang diajarkan. Sedangkan pelajaran adalah yang dipelajari atau diajarkan, contohnya: pelajaran matematika, fisika, dan lainnya.

Nah, dalam KBBI juga ada istilah tahun ajaran yang berarti masa belajar dalam tahun tertentu. Jadi, yang benar untuk menyebut masa belajar satu tahun di sekolah adalah tahun ajaran, bukan tahun pelajaran.

✔️ Contoh penulisan yang benar:
Sistem Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2025/2026

✍️ Bagaimana Cara Menulis Tahunnya?

Nah, ini juga penting! Banyak yang masih keliru menulis tahun ajaran pakai tanda minus, misalnya 2025-2026. Padahal, yang benar adalah menggunakan garis miring (/) seperti ini:
➡️ 2025/2026

Kenapa? Karena garis miring dipakai untuk menunjukkan dua tahun kalender dalam satu tahun ajaran. Sementara tanda minus biasanya digunakan untuk hal lain, seperti skor pertandingan (contoh: 3–1).

Hal ini juga ditegaskan oleh pakar bahasa Indonesia, Ivan Lanin (2019), bahwa penulisan tahun ajaran yang tepat adalah 2025/2026, bukan 2025-2026.

📆 Kenapa Tahun Ajarannya Harus Dua Tahun?

Karena di Indonesia, tahun ajaran dimulai pada bulan Juli dan berakhir pada Juni tahun berikutnya. Dalam satu tahun ajaran, ada dua semester

Semester Ganjil (Juli–Desember)

Semester Genap (Januari–Juni)

Jadi kalau sekolah dimulai bulan Juli 2025 dan selesai Juni 2026, maka tahun ajarannya ditulis sebagai 2025/2026. Gampang, kan?

🎉 Selamat Datang di Tahun Ajaran Baru!

Apapun kelas atau jenjang kamu sekarang, semoga tahun ajaran baru ini jadi momen yang menyenangkan, penuh semangat, dan banyak hal baru yang bisa dipelajari. Yuk, mulai tahun ajaran 2025/2026 ini dengan semangat baru dan penulisan yang benar juga, ya!

Salam Literasi!


Kamis, 01 Mei 2025

Kita hidup di era masyarakat baru, masyarakat Digital. Hampir segala hal ditopang oleh internet. Dunia menjadi sangat dekat; cukup dengan satu sentuhan layar, kita terhubung dengan siapa pun, dimana pun. Namun, menjadi seperti dua sisi mata uang, ruang digital ini memungkinkan kita untuk melakukan hal baik sekaligus membuka peluang untuk hal-hal buruk.


Dalam konteks pendidikan, perubahan ini sangat terasa. Di ruang-ruang kelas hari ini, peserta didik kerap menyerap pengetahuan lebih banyak dari internet dibanding dari guru mereka sendiri. Coba saja kita lihat kenyataannya, ketika guru memberikan tugas atau tantangan, peserta didik cenderung langsung mencari solusi melalui mesin pencari. Dan itu bukanlah hal yang salah ataupun dilarang, bahkan seharusnya dimanfaatkan dengan bijak. Sehingga guru juga harus lebih bijak lagi memanfaatkan internet dalam beraktivitas di dunia maya. Jadilah seperti kata Ki Hajar Dewantara; Ing Ngarsa Sung Tulodo. Agar peserta didik menjadikan kita panutan terbaik saat mereka nantinya beraktivitas di tengah masyarakat digital.


Masalah utama kita saat ini bukanlah soal mengganti kurikulum atau menggulirkan kembali wacana Ujian Nasional. Sebab, kenyataannya kompetensi antara peserta didik di kota besar tidak bisa dipukul rata dengan mereka yang tinggal di daerah pedesaan, apalagi pelosok. Biarkanlah peserta didik bertumbuh bersama kearifan lokalnya, memelihara budaya sekitar tanpa mengabaikan kecakapan digital yang mereka perlukan.


Pembelajaran yang paling relevan saat ini adalah pembelajaran berbasis pendampingan teknologi. Guru perlu fokus pada penguatan literasi digital dasar, agar peserta didik mampu menjelajahi internet secara cerdas dan aman, sembari tetap membimbing mereka memahami materi yang telah tersusun dalam kurikulum. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membekali mereka untuk hidup selaras dengan tantangan zaman. 


Hal-hal di atas tidaklah cukup untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Upaya tersebut harus ditopang secara penuh oleh keluarga di rumah, karena bagaimanapun juga pendidikan dalam lingkungan keluarga adalah fondasi utama. Islam pun menempatkan pendidikan keluarga sebagai pilar pertama dan paling penting dalam membentuk karakter serta nilai-nilai kehidupan seorang anak, bahkan sebelum ia mengenal sekolah formal.


Seluruh usaha di atas, tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk mewujudkan partisipasi semesta dalam menciptakan pendidikan yang bermutu untuk semua.


Dengan cara ini, pendidikan kita tidak hanya mencetak individu yang pintar tetapi juga cerdas secara sosial dan bijak secara digital. Inilah langkah konkret untuk menciptakan generasi yang adaptif, berakar pada budaya lokal, dan siap menghadapi tantangan global.


Selamat Hari Pendidikan Nasional tahun 2025





Subscribe Us

Artikel Populer

Total Tayangan Halaman