Kamis, 01 Mei 2025

Kita hidup di era masyarakat baru, masyarakat Digital. Hampir segala hal ditopang oleh internet. Dunia menjadi sangat dekat; cukup dengan satu sentuhan layar, kita terhubung dengan siapa pun, dimana pun. Namun, menjadi seperti dua sisi mata uang, ruang digital ini memungkinkan kita untuk melakukan hal baik sekaligus membuka peluang untuk hal-hal buruk.


Dalam konteks pendidikan, perubahan ini sangat terasa. Di ruang-ruang kelas hari ini, peserta didik kerap menyerap pengetahuan lebih banyak dari internet dibanding dari guru mereka sendiri. Coba saja kita lihat kenyataannya, ketika guru memberikan tugas atau tantangan, peserta didik cenderung langsung mencari solusi melalui mesin pencari. Dan itu bukanlah hal yang salah ataupun dilarang, bahkan seharusnya dimanfaatkan dengan bijak. Sehingga guru juga harus lebih bijak lagi memanfaatkan internet dalam beraktivitas di dunia maya. Jadilah seperti kata Ki Hajar Dewantara; Ing Ngarsa Sung Tulodo. Agar peserta didik menjadikan kita panutan terbaik saat mereka nantinya beraktivitas di tengah masyarakat digital.


Masalah utama kita saat ini bukanlah soal mengganti kurikulum atau menggulirkan kembali wacana Ujian Nasional. Sebab, kenyataannya kompetensi antara peserta didik di kota besar tidak bisa dipukul rata dengan mereka yang tinggal di daerah pedesaan, apalagi pelosok. Biarkanlah peserta didik bertumbuh bersama kearifan lokalnya, memelihara budaya sekitar tanpa mengabaikan kecakapan digital yang mereka perlukan.


Pembelajaran yang paling relevan saat ini adalah pembelajaran berbasis pendampingan teknologi. Guru perlu fokus pada penguatan literasi digital dasar, agar peserta didik mampu menjelajahi internet secara cerdas dan aman, sembari tetap membimbing mereka memahami materi yang telah tersusun dalam kurikulum. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membekali mereka untuk hidup selaras dengan tantangan zaman. 


Hal-hal di atas tidaklah cukup untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Upaya tersebut harus ditopang secara penuh oleh keluarga di rumah, karena bagaimanapun juga pendidikan dalam lingkungan keluarga adalah fondasi utama. Islam pun menempatkan pendidikan keluarga sebagai pilar pertama dan paling penting dalam membentuk karakter serta nilai-nilai kehidupan seorang anak, bahkan sebelum ia mengenal sekolah formal.


Seluruh usaha di atas, tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk mewujudkan partisipasi semesta dalam menciptakan pendidikan yang bermutu untuk semua.


Dengan cara ini, pendidikan kita tidak hanya mencetak individu yang pintar tetapi juga cerdas secara sosial dan bijak secara digital. Inilah langkah konkret untuk menciptakan generasi yang adaptif, berakar pada budaya lokal, dan siap menghadapi tantangan global.


Selamat Hari Pendidikan Nasional tahun 2025





0 Comments:

Posting Komentar

Subscribe Us

Artikel Populer

Total Tayangan Halaman